Ilusi Materi dan Berhala Konsumsi (Seri Naik Kelas Bag. 1)
Puput Wahyudi Z.P 26 Okt 2026 3 menit baca
Di panggung teater kehidupan modern, tragedi tentang kemiskinan bukanlah ketiadaan uang itu sendiri, melainkan lahirnya ilusi tentang kekayaan. Banyak orang menghabiskan seluruh energi kehidupan mereka demi menjadi aktor yang memerankan karakter orang kaya, alih-alih membangun fondasi untuk benar-benar menjadi kaya. Kita hidup di era di mana cangkang luar lebih dipuja-puja daripada esensi, dan kosmetik kekayaan lebih dikejar membabi buta daripada kemerdekaan finansial.
Sebenarnya fenomena ini bukanlah penyakit baru. Lebih dari seabad yang lalu, sosiolog dan ekonom Thorstein Veblen dalam karya fundamentalnya, The Theory of the Leisure Class (Macmillan, 1899), telah merumuskan kutukan ini melalui konsep Conspicuous Consumption (Konsumsi Pamer). Veblen mengamati bahwa manusia sering kali menghancurkan rasionalitas ekonominya dengan membeli barang-barang mahal bukan demi fungsi atau utilitasnya, melainkan semata-mata sebagai sinyal untuk memvalidasi status sosial dan hierarki mereka di mata masyarakat.
Di sinilah letak ironinya, demi panggung pamer untuk mendapatkan penghormatan fana dari orang-orang yang bahkan tidak mereka kenal atau lebih buruk, dari orang-orang yang diam-diam mereka benci, banyak orang rela merantai leher mereka dengan tumpukan tagihan hutang sana-sini demi gengsi di depan kamera dan di depan panggung narasi kekayaan. Mereka menyembah "berhala konsumsi", mengira bahwa dengan mengenakan merek-merek mewah atau mengendarai kendaraan terbaru, mereka telah sah "Naik Kelas". Padahal, yang terjadi justru sebaliknya, mereka hanya sedang memoles jeruji penjara finansial mereka agar terlihat mengkilap seperti emas.
Fakta yang sering disembunyikan oleh gemerlapnya etalase dunia adalah bahwa kekayaan sejati bersuara sangat pelan, sementara kemiskinan yang disamarkan justru berteriak sangat keras. Dalam riset komprehensif selama dua dekade yang dibukukan oleh Dr. Thomas J. Stanley dan Dr. William D. Danko, The Millionaire Next Door: The Surprising Secrets of America's Wealthy (Longstreet Press, 1996), terungkap sebuah anomali paradoksal yang menampar / bertolak belakang, para pemegang kekayaan puncak finansial yang sejati jarang sekali memamerkan harta mereka. justru mereka menyembunyikan kekayaannya dari kebanyakan orang karena semakin kaya justru berbahaya. Kekayaaan yang mereka miliki tidak ingin diakses oleh banyak orang!
Stanley dan Danko menggunakan ungkapan satir dari Texas, “Big Hat, No Cattle” (Topi koboinya besar, tapi ia tidak punya sapi), untuk menyindir kelompok kelas menengah yang bergaya selangit namun aset bersihnya nihil. Riset mereka membuktikan bahwa akumulasi kekayaan yang sejati (net worth) justru dibangun melalui kedisiplinan dan keberanian untuk hidup jauh di bawah standar kemampuan yang sebenarnya (hidup secara under-cover).
Senada dengan hal tersebut, pemikir keuangan kontemporer Morgan Housel dalam mahakaryanya The Psychology of Money: Timeless Lessons on Wealth, Greed, and Happiness (Harriman House, 2020) menggarisbawahi satu hukum besi yang sering membutakan kita: "Wealth is what you don’t see." (Kekayaan adalah hal-hal yang tidak Anda lihat). Housel mengingatkan bahwa kekayaan sejati bukanlah mobil mewah yang sudah dibeli atau jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan, kekayaan sejati adalah aset keuangan yang belum dihabiskan, portofolio yang dibiarkan menggulung secara diam-diam, dan opsi kebebasan waktu yang berhasil dibeli. Karena waktu adalah kebebasan dan kekayaan.